Malam ini aku ada janji dengan dosen pembimbing TA ku.
Aku adalah
seorang mahasiswa angkatan tua. Sudah 7 tahun aku kuliah sampai-sampai
dosen pembimbing TA ku diganti karena harus melanjutkan study keluar
negeri. Sisi baiknya, sang dosen pengganti adalah seorang wanita cantik
yang mungkin usianya hanya terpaut 2-3 tahun dari umurku. Maklum lah,
aku sendiri sudah berumur 25 tahun saat ini.
Bu Chintya, begitulah kami biasa memanggilnya. Seorang wanita muda
yang tak hanya cerdas dan penuh kharisma namun juga cantik dan ramah.
Beliau resmi mengajar di fakultas kami baru 1 semester. Tapi dengan
berjuta keanggunan itu, tak heran jika beliau langsung dikenal &
dikagumi oleh seluruh penghuni kampus.
Minggu ini, Bu Chintya
cuti sakit. kabarnya gejala thypus yang disertai maag. Suatu berita yang
sangat buruk bagi kelas yang diajarnya, karena selama beliau cuti,
tentu saja anak-anak tidak bisa bertatap muka dengan bu dosen yang
katanya menjadi semangat belajar mahasiswa.
Tapi hal ini lain bagi
mahasiswa TA bimbingan Bu Chintya. Kemarin pagi Bu Chintya mengirimkan
e-mail yang mempersilahkan seluruh mahasiswa bimbingannya mengirimkan
pekerjaan masing-masing via e-mail, kemudian beliau menjadwalkan kami untuk bimbingan di rumahnya selama
beliau cuti. Sungguh seorang dosen yang sempurna. Cantik, cerdas dan
penuh integritas.
“selamat malam” begitu sambut sosok pemilik rumah yang sudah kukenal
baik itu. Dan tak lama kemudian, kami sudah duduk berhadapan di ruang
tamu yang ukurannya juga tidak terlalu luas.
Malam itu Bu Chintya
mengenakan atasan tanpa lengan berwarna hitam, dengan bawahan celana
ketat berwarna abu-abu. Sungguh padu padan yang pas sekali, terlihat
sexy tetapi tidak menyirnakan keanggunannya. Sangat cantik.
“kamu tadi tidak kehujanan kan?” tanyanya membuka pembicaraan.
“tidak Bu. Ibu sudah sehat?” kataku basa-basi
“ah, saya sebenarnya juga tidak merasa sakit kok” jawabnya sambil tersenyum dan menyalakan netbook-nya.
“Dhimas Perdana, HC04XXXXX, betul kan?” katanya sambil membuka file pekerjaanku, dan aku pun mengangguk meng-iya-kan.
“Nah, saya harus mengatakan kepadamu bahwa kamu selalu mengulang
kesalahan yang sama. Sekarang kamu baca hasil pekerjaanmu dan silahkan
bertanya kalau ada yang belum paham” katanya sambil memutar netbook
berisi draft TA yang penuh coretan-coretan highlight itu kearahku.
“Seperti yang sudah saya katakan kemarin, sebaiknya tulisanmu jangan
bertele-tele. Gunakan sumber materi yang valid dan jangan menuliskan
pendapatmu sendiri kedalam dasar teori. Kalau kamu ingin mengutip,
blablabla…
Begitulah Bu Chintya menelanjangi hasil kerjaku seolah semua yang
kukerjakan penuh kesalahan. Sekilas aku melirik wajah cantik yang penuh
ekspresi itu, dan memang semua yang dikatakanya tidak salah.
“maaf
Bu, kalau mengenai paragraf ini, kira-kira yang salah bagian mana?”
kataku sedikit memotong pembicaraannya sambil menghadapkan netbook itu
kearahnya.
Dan akhirnya malam itu kulewati dengan duduk bersanding Bu Chintya sambil mendengarkan ceramahnya.
Malam minggu, hujan gerimis mulai turun, dan duduk bersanding Bu
Chintya. “What a perfect weekend” begitu kataku dalam hati. Dan tentu
saja kalimat-kalimat yang terdengar dari bibir tipis itu tidak
sepenuhnya lagi kusimak. Aku lebih memperhatikan gerak bibirnya dari
belakang sambil menikmati kecantikannya parasnya.

.jpg)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar